Tabanan – Dugaan pencurian ayam di Kabupaten Tabanan, Bali, berujung pada tragedi memilukan yang merenggut nyawa seorang pria pada Jumat (24/7) dini hari di kawasan Juwuk Legi, Desa Batunya, Kecamatan Baturiti. Korban diduga menjadi sasaran amuk massa hingga meninggal dunia, sementara ketegangan di lokasi membuat warga membakar sepeda motor yang diduga milik korban. Pihak kepolisian kini tengah menyelidiki kronologi lengkap kejadian serta mengusut pihak-pihak yang bertanggung jawab secara hukum.
Firman Wanipin, pengamat sosial dan wartawan Harian Umum Rakyat Sumbar sekaligus pendiri channel YouTube Ciloteh Wanipin, mengutuk keras tindakan main hakim sendiri yang menganggap nyawa manusia tak berharga hanya karena pencurian seekor ayam. “Hanya gara-gara maling ayam sampai hilang nyawa seseorang, bahkan di depan anaknya sendiri. Masa masyarakat tega melakukan ini? Seolah-olah nyawa manusia tidak ada artinya, sementara ayam dianggap lebih penting,” tegas Firman.
Firman menegaskan bahwa Indonesia adalah negara hukum yang harus menjunjung tinggi proses hukum sebagaimana mestinya, bukan berbalik menjadi ajang kekerasan di tangan massa. “Berapa harga satu ekor ayam? Polri harus segera bertindak, mengusut dan menangkap pelaku pengeroyokan ini tanpa pandang bulu,” tambahnya.
Ia juga menyoroti ironi kondisi saat ini, di mana para koruptor yang merugikan negara dan masyarakat luas masih bebas berkeliaran tanpa tersentuh hukum, sementara kasus kecil seperti pencurian ayam berujung kematian dan kekacauan sosial. “Yang harusnya dikejar dan ditindak tegas adalah para koruptor yang merusak negara, bukan maling ayam yang hanya merugikan satu orang dengan nilai kerugian sangat kecil,” pungkas Firman.
Kasus ini menjadi refleksi kritis bagi kepolisian dan masyarakat bahwa penegakan hukum yang adil dan proporsional mutlak diperlukan untuk menjaga stabilitas sosial dan keadilan di negeri ini.

0 Komentar